Senin, 03 November 2008

Apa yang dimaksud dengan PMS?

PMS adalah singkatan dari Penyakit Menular Seksual, yang berarti suatu infeksi atau penyakit yang kebanyakan ditularkan melalui hubungan seksual (oral, anal atau lewat vagina).
PMS juga diartikan sebagai penyakit kelamin, atau infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Harus diperhatikan bahwa PMS menyerang sekitar alat kelamin tapi gejalanya dapat muncul dan menyerang mata, mulut, saluran pencernaan, hati, otak, dan organ tubuh lainnya.
Contohnya, baik HIV/AIDS dan Hepatitis B dapat ditularkan melalui hubungan seks tapi keduanya tidak terlalu menyerang alat kelamin.

Mengapa kita membutuhkan informasi tentang PMS?
Jika kita melakukan hubungan seksual dengan orang lain, walaupun hanya sekali, kita dapat terkena PMS.

Apa hubungan organ-organ reproduksi dengan PMS?
Kebanyakan PMS membahayakan organ-organ reproduksi. Pada wanita, PMS menghancurkan diding vagina atau leher rahim, biasanya tanpa tanda-tanda infeksi. Pada pria, yang terinfeksi lebih dulu adalah saluran air kencing. Jika PMS tidak diobati dapat menyebabkan keluarnya cairan yang tidak normal dari penis dan berakibat sakit pada waktu buang air kecil. PMS yang tidak diobati dapat mempengaruhi organ-organ reproduksi bagian dalam dan menyebabkan kemandulan baik pada pria atau wanita.

Bagian tubuh mana yang dapat terpengaruh PMS?

Pada wanita
Saluran indung telur
Indung telur
rahim
kandung kencing
leher rahim
vagina
saluran kencing
anus

Pada pria:
kandung kencing
vas deferens
prostat
penis
epididymis
testicle
saluran kencing
kantung zakar
seminal vesicle
anus

Apa bahaya PMS?
Ada beberapa bahaya PMS, yaitu:

  • Kebanyakan PMS dapat menyebabkan kita sakit
  • Beberapa PMS dapat menyebabkan kemandulan
  • Beberapa PMS dapat menyebabkan keguguran
  • PMS dapat menyebabkan kanker leher rahim
  • Beberapa PMS dapat merusak penglihatan, otak dan hati
  • PMS dapat menular kepada bayi
  • PMS dapat menyebabkan kita rentan terhadap HIV/AIDS
  • Beberapa PMS ada yang tidak bisa disembuhkan
  • Beberapa PMS seperti halnya HIV/AIDS dan Hepatitis B dapat menyebabkan kematian.

Apa saja tipe-tipe PMS?
Ada banyak jenis PMS. Yang paling umum dan paling penting untuk diperhatikan adalah:

  • Gonore
  • Klamidia
  • Herpes Kelamin
  • Sifilis
  • Hepatitis B
  • HIV/AIDS

Pada saat ini, klamidia lebih banyak diperhatikan. Seperti halnya gonore, klamidia dapat menyebabkan kemandulan. Herpes menyebabkan gejala-gejala yang bisa muncul dan hilang seumur hidup. Sifilis dapat menyebabkan kerusakan yang berat jika tidak diobati. Sementara AIDS, yang disebabkan oleh HIV menghancurkan sistem kekebalan tubuh, membuat orang sakit dan bahkan meninggal.

Dapatkah PMS disembuhkan?
Tidak semua PMS dapat disembuhkan. PMS yang disebabkan oleh virus, seperti HIV/AIDS, herpes kelamin dan Hepatitis B adalah contoh PMS yang tidak dapat disembuhkan. HIV/AIDS merupakan yang paling berbahaya. HIV/AIDS tidak dapat disembuhkan dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang memiliki peranan paling penting dalam melawan penyakit. Banyak orang meninggal karena AIDS disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh mereka tidak dapat melawan infeksi.

Herpes kelamin memiliki gejala yang muncul-hilang dan bisa terasa sangat sakit jika penyakit tsb sedang aktif. Pada herpes, obat-obatan hanya bisa digunakan untuk mengobati gejala saja, tapi virus yang menyebabkan herpes tetap hidup di dalam tubuh selamanya.

Apakah setiap PMS memiliki gejala?

Tidak!

Terkadang, PMS tidak menunjukkan gejala sama sekali, sehingga kita tidak tahu kalau kita sudah terinfeksi. PMS dapat bersifat asymptomatic (tidak memiliki gejala) baik pada pria atau wanita. Beberapa PMS baru menunjukkan tanda-tanda dan gejala berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun setelah terinfeksi.
Pada wanita, PMS bahkan tidak dapat terdeteksi. Walaupun seseorang tidak menunjukkan gejala-gejala terinfeksi PMS, dan tidak mengetahui bahwa mereka terkena PMS, mereka tetap bisa menulari orang lain.
Orang yang terinfeksi HIV biasanya tidak menunjukkan gejala setelah bertahun-tahun terinfeksi. Tidak seorangpun dapat menentukan apakah betul atau tidak seseorang terinfeksi hanya berdasarkan penampilannya saja. Walaupun orang tsb mungkin terlihat sehat, mereka masih bisa menularkan HIV kepada orang lain. Kadang, orang yang sudah terinfeksi HIV tidak sadar bahwa mereka mengidap virus tsb, karena mereka merasa sehat dan bisa tetap aktif. Hanya tes laboratorium yang dapat menunjukkan seseorang telah terinfeksi HIV atau tidak.

Apa gejala PMS yang paling umum?
PMS kadang tidak memiliki gejala. Gejala yang mungkin muncul termasuk:

  • Keluar Cairan/keputihan yang tidak normal dari vagina atau penis. Pada wanita, terjadi peningkatan keputihan. Warnanya bisa menjadi lebih putih, kekuningan, kehijauan, atau kemerahmudaan. Keputihan bisa memiliki bau yang tidak sedap dan berlendir.
  • Pada pria, rasa panas seperti terbakar atau sakit selama atau setelah kencing, biasanya disebabkan oleh PMS. Pada wanita, beberapa gejala dapat disebabkan oleh PMS tapi juga disebabkan oleh infeksi kandung kencing yang tidak ditularkan melalui hubungan seksual.
  • Luka terbuka dan atau luka basah disekitar alat kelamin atau mulut. Luka tersebut dapat terasa sakit atau tidak.
  • Tonjolan kecil-kecil (papules) disekitar alat kelamin
  • Kemerahan di sekitar alat kelamin
  • Pada pria, rasa sakit atau kemerahan terjadi pada kantung zakar
  • Rasa sakit diperut bagian bawah yang muncul dan hilang, dan tidak berhubungan dengan menstruasi
  • Bercak darah setelah hubungan seksual

Berikut tabel gejala umum PMS

Gejala

Perempuan

Laki-laki

Luka

Luka dengan atau tanpa rasa sakit, disekitar alat kelamin, anus, mulut atau bagian tubuh yang lain. Tonjolan kecil-kecil, diikuti luka yang sangat sakit di sekitar alat kelamin

Cairan tidak normal

Cairan dari vagina bisa gatal, kekuningan, kehijauan, berbau atau berlendir. Duhtubuh bisa juga keluar dari anus.

Cairan bening atau berwarna berasal dari pembukaan kepala penis atau anus.

Sakit pada saat bunag air kecil

PMS pada wanita biasanya tidak menyebabkan sakit atau burning urination

Rasa terbakar atau rasa sakit selama atau setelah urination terkadang diikuti dengan duhtubuh dari penis

Perubahan warna kulit

terutama di bagian telapak tangan atau kaki. Perubahan bias menyebar ke seluruh bagian tubuh

Tonjolan seperti jengger ayam

Tumbuh tomjolan seperti jengger ayam di sekitar alat kelamin

Sakit pada bagian bawah perut

Rasa sakit yang muncul dan hilang, yang tidak berkaitan dengan menstruasi bisa menjadi tanda infeksi saluran reproduksi (infeksi yang telah berpindah ke bagian dalam system reproduksi, termasuk servik, tuba falopi, dan ovarium)

Kemerahan

Kemerahan pada sekitar alat kelamin, atau diantara kaki

Kemerahan pada sekitar alat kelamin, kemerahan dan sakit di kantong zakar

Gejala lain dari HIV/AIDS

  • Demam
  • Keringat malam
  • Sakit kepala
  • Kemerahan di ketiak, paha atau leher
  • Mencret yang terus menerus
  • Penurunan berat badan secara cepat
  • Batuk, dengan atau tanpa darah
  • Bintik ungu kebiruan pada kulit

Walaupun seseorang mungkin mengalami beberapa dari gejala-gejala tersebut, diperhatikan bahwa penyakit yang lain juga dapat menyebabkan gejala-gejala ini. Jika muncul gejala-gejala tersebut, lebih baik dikonsultasikan dengan dokter secepatnya.

Bagaimana kita bisa terinfeksi PMS?
Kebanyakan PMS didapat dari hubungan seks yang tidak aman. Yang dimaksud dengan seks yang tidak aman, adalah:

  • Melakukan hubungan seksual lewat vagina tanpa kondom (penis di dalam vagina)
  • Melakukan hubungan seksual lewat anus tanpa kondom (penis di dalam anus)
  • Hubugan seksual lewat oral atau karaoke (penis di dalam mulut tanpa kondom atau mulut menyentuh alat kelamin wanita)

Adakah cara lain orang dapat tertular PMS?
Cara lain seseorang dapat tertular PMS juga melalui:

Darah
Dari tansfusi darah yang terinfeksi, menggunakan jarum suntik bersama, atau benda tajam lainnya ke bagian tubuh untuk menggunakan obat atau membuat tato.

Ibu hamil kepada bayinya
Penularan selama kehamilan, selama proses kelahiran. Setelah lahir, HIV bisa menular melalui menyusui.

Jadi Selain cara di atas, PMS tidak menular?

Ya.

PMS tidak menular melalui:

  • Duduk bersebelahan dengan penderita PMS
  • Penggunaan toilet bersama penderita
  • Bekerja terlalu keras
  • Menggunakan kolam renang umum, pemandian air panas atau sauna bersama
  • Berjabatan tangan dengan penderita
  • Bersin-bersin
  • Keringat

PMS sering ditemukan pada cairan seksual (cairan vagina dan sperma) dan darah. PMS ditularkan saat cairan seksual dari orang yang terinfeksi memasuki tubuh orang lain.

Kenapa perempuan lebih berisiko tertular PMS dari pada pria?
Perempuan lebih rentan tertular PMS dibandingkan dengan laki-laki. Alasan utamanya adalah:

  • Saat berhubungan seks, dinding vagina dan leher rahim langsung terpapar oleh cairan sperma. Jika sperma terinfeksi oleh PMS, maka perempuan tsb pun bisa terinfeksi
  • Jika perempuan terinfeksi PMS, dia tidak selalu menunjukkan gejala. Tidak munculnya gejala dapat menyebabkan infeksi meluas dan menimbulkan komplikasi
  • Banyak orang -- khususnya perempuan dan remaja -- enggan untuk mencari pengobatan karena mereka tidak ingin keluarga atau masyarakat tahu mereka menderita PMS.

(Sumber: UNAIDS dan WHO 1998, Alan Guttmacher Institute 1998).

Bagaimana Akibat buruk PMS bagi seseorang?
Jika dibiarkan saja tanpa ditangani, PMS dapat menghancurkan orang yang terinfeksi, seperti:

  • Kemandulan baik pria atau wanita
  • Kanker leher rahim pada wanita
  • Kehamilan di luar rahim
  • Infeksi yang menyebar
  • Bayi lahir dengan kelahiran yang tidak seharusnya, seperti lahir sebelum cukup umur, berat badan lahir rendah, atau terinfeksi PMS
  • Infeksi HIV

Apa yang dimaksud dengan tes HIV ?

Tes HIV adalah suatu tes darah yang digunakan untuk memastikan apakah seseorang sudah positif terinfeksi HIV atau tidak, yaitu dengan cara mendeteksi adanya antibody HIV di dalam sample darahnya.

Hal ini perlu dilakukan setidaknya agar seseorang bisa mengetahui secara pasti status kesehatan dirinya, terutama menyangkut resiko dari perilakunya selama ini.

Kenapa perlu tes ?

Seperti telah diketahui, penularan HIV dari seseorang yang telah terinfeksi kepada orang lain adalah melalui pertukaran cairan tubuh, yang meliputi darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu (selengkapnya lihat di sub judul "Apakah HIV/AIDS?" di halaman situs ini).

Karena itu cara perpindahan HIV dari seseorang kepada orang lain juga sangat spesifik, yaitu :

  • melalui transfusi darah atau produk darah
  • transplantasi organ atau jaringan tubuh
  • pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV secara bergantian, misalnya jarum suntik di antara pengguna narkotika
  • pemakaian jarum suntik / alat tajam yang memungkinkan terjadinya luka, secara bergantian tanpa disterilkan, misalnya jarum tato, jarum tindik, peralatan pencet jerawat, dll
  • hubungan seks tidak aman, yang memungkinkan tercampurnya cairan sperma dengan cairan vagina (pada seks vaginal) ; atau cairan sperma dengan darah (pada seks anal)-tanpa penghalang (dalam hal ini kondom)
  • dari seorang ibu hamil yang HIV positif, kepda bayi yang dikandungnya, yaitu melalui jalan lahir dan juga dalam proses menyusui dengan air susu ibu

Singkatnya, bila seseorang dalam hidupnya pernah melakukan hal-hal berisiko tinggi seperti disebutkan di atas, maka penting bagi dirinya untuk segera melakukan tes HIV, sehingga bisa lebih menjaga perilaku selanjutnya demi kesehatan dirinya sendiri dan pasangannya, serta (calon) anak-anaknya kelak.

Apa gunanya ?

Sebenarnya, semakin cepat kita mengetahui status HIV kita, semakin banyak hal positif yang bisa kita lakukan dalam hidup ini. Banyak orang yang selama ini tidak menyadari resiko perilakunya terhadap kemungkinan tertular atau pun menularkan HIV, dan karena tidak segera menjalani tes HIV perilakunya tetap saja berisiko tinggi. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan kesadaran untuk menjaga kesehatan diri sendiri, pasangan maupun (calon) anak-anak .
Secara umum tes HIV juga berguna untuk mengetahui perkembangan kasus HIV/AIDS serta untuk meyakinkan bahwa darah untuk transfusi dan organ untuk transplantasi tidak terinfeksi HIV.

Bagaimana prosedurnya ?

Tes HIV harus bersifat :

sukarela :
artinya bahwa seseorang yang akan melakukan tes HIV haruslah berdasarkan atas kesadarannya sendiri, bukan atas paksaan / tekanan orang lain. Ini juga berarti bahwa dirinya setuju untuk dites setelah mengetahui hal-hal apa saja yang tercakup dalam tes itu, apa keuntungan dan kerugian dari testing, serta apa saja impilkasi dari hasil positif atau pun hasil negatif.

rahasia : artinya, apa pun hasil tes ini nantinya (baik positif maupun negatif) hasilnya hanya boleh di beritahu langsung kepada orang yang bersangkutan. Tidak boleh diwakilkan kepada siapa pun, baik orang tua, pasangan, atasan atau siapapun.

Di samping itu hasil tes HIV juga harus dijamin kerahasiaannya oleh pihak yang melakukan tes itu (dokter, rumah sakit, atau labratorium) dan tidak boleh disebarluaskan.

Mengingat begitu pentingnya untuk memperhatikan Hak Asasi Manusia di dalam masalah tes HIV ini, maka untuk orang yang akan melakukan tes harus disediakan jasa konseling, yaitu :

konseling pre-test : yaitu konseling yang dilakukan sebelum darah seseorang yang menjalani tes itu diambil. Konseling ini sangat membantu seseorang untuk mengetahui risiko dari perilakunya selama ini, dan bagaimana nantinya bersikap setelah mengetahui hasil tes.

Konseling pra-tes juga bermanfaat untuk meyakinkan orang terhadap keputusan untuk melakukan tes atau tidak, serta mempersiapkan dirinya bila hasilnya nanti positif.

konseling post-test : yaitu konseling yang harus diberikan setelah hasil tes diketahui, baik hasilnya positif mau pun negatif. Konseling post-test sangat penting untuk membantu mereka yang hasilnya HIV positif agar dapat mengethui cara menghidnari penularan pada orang lain, serta untuk bisa mengatasinya dan menjalin hidup secara positif. Bagi merek yang hasilnya HIV negatif, konseling post-test bermanfaat untuk memberitahu tentang cara-cara mencegah infeksi HIV di masa datang.

Perlu diperhatikan bahwa proses konseling, testing dan hasil tes harus dirahasiakan.

Khusus tentang aspek kerahasiaan ini perlu diperhatikan bahwa masalah kerahasiaan biasanya disikapi dengan cara yang berbeda di setiap tempat. Di beberapa komunitas, kerahasiaan diartikan sebagai jangan pernah memberi tahu siapa pun tentang status HIV Anda , tetapi kerahasiaan (secrecy) seperti ini berbeda dengan confidentiality.

Secrecy dapat meningkatkan kesan bahwa HIVadalah hal yang tabu dibicarakan. Adalah penting diingat untuk tidak mendiskusikan status HIV seseorang tanpa ijin mereka, tetapi penekanan yang berlebihan pada kerahasiaan individu dapat menyebabkan kesulitan bagi orang tersebut untuk mendapatkan dukungan yang tepat. Hal ini perlu dipecahkan melalui beberapa cara, misalnya memberi informasi tentang HIV secara lebih baik kepada masyarakat, menganjurkan orang untuk berbagi tentang hasuk tesnya dengan orang yang mereka percaya, menganjurkan keterbukaan tentang sebab kematian, dan pada saat yang bersamaan menghormati hak asasi orang dengan HIV dan mencegah stigma dam diskriminasi.
Jika seseorang tidak memberi tahu orang lain bahwa ia memiliki HIV, mereka bisa lebih cemas dan terisolasi. Dukungan sosial bisa membantu dalam menjaga agar orang tetap sehat dan bisa menurunkan tingkat stresnya, dan bisa dilakukan oleh keluarga dan lingkungan.

Untuk alasan-alasan tersebut, program-program di beberapa negara Asia dan Afrika menawarkan bentuk kerahasian yang lebih sesuai dengan budaya setempat. Hal ini meliputi 'kerahasiaan yang dibagi' yang menggunakan konselor 'awam' (orang yang telah dipercaya, yang telah dilatih dalam hal konseling) daripada konselor professional; konseling dan testing pasangan; serta konseling kelompok dan pendidikan masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap HIV dan AIDS. (Healthlink Worldwide)

Cara kerja tes ?

Jika seseorang terinfeksi oleh suatu virus, maka tubuhnya akan memproduksi antibodi untuk melawan infeksi tersebut. Antibodi ini diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh. Antibodi jauh lebih mudah dideteksi daripada virusnya.

Sebagian besar tes antibodi HIV mendeteksi antibodi terhadap HIV dalam sample darah. Jika tidak ada antibodi yang terdeteksi, hasilnya adalah seronegatif atau HIV negatif. Sebaliknya, jika ada antibodi terhadap HIV, berarti hasilnya seropositif atau HIV positif.

Walau pun demikian, suatu tes bisa saja memberi hasil negatif bila orang yang dites baru saja terinfeksi. Hal ini dapat terjadi karena tubuh kita membutuhkan waktu beberapa minggu untuk mulai menghasilkan antibodi sejak terjadinya infeksi. Antibodi biasanya dapat dideteksi sekitar 3-8 minggu setelah terinfeksi, dan masa ini disebut periode jendela (window period). Dalam masa seperti ini, bisa saja seseorang mendapatkan hasil tes negatif karena antibodinya belum terbentuk sehingga belum dapat dideteksi , tapi ia sudah bis menularkan HIV pada orang lain lewat cara-cara yang sudah disebutkan terdahulu.

Tes darah yang dilakukan biasanya menggunakan tes ELISA (enzyme linked immunosorbent assay) yang memiliki sensitivitas tinggi - namun spesifikasinya rendah. Bila pada saat tes ELISA hasilnya positif, maka harus dikonfirmasi dengan tes Western Blot, yaitu jenis tes yang mempunyai spesifikasi tinggi namun sensitivitasnya rendah. Karena sifat kedua tes ini berbeda, maka biasanya harus dipadukan untuk mendapatkan hasil yang akurat.

Selain kedua jenis tes tadi, ada juga jenis tes lain yang mampu mendeteksi antigen (bagian dari virus), yaitu NAT (nucleic acid amplification technologies) dan PCR (polymerase chain reaction).

APAKAH AIDS ITU ?

AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrom (sekumpulan gejala penyakit, yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh , yang didapat).
AIDS disebabkan oleh adanya virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) didalam tubuh.
Virus HIV ini hidup didalam 4 cairan tubuh manusia :
1. Cairan darah
2. Cairan sperma
3. Cairan vagina
4. Air susu Ibu

Cara penularan :

1. Lewat cairan darah
Melalui transfusi darah / produk darah yg sudah tercemar HIV
Lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, misalnya pemakaian jarum suntik dikalangan pengguna Narkotika Suntikan
Melalui pemakaian jarum suntik yang berulangkali dalam kegiatan lain, misalnya : peyuntikan obat, imunisasi,
Pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan alat facial wajah
2. Lewat cairan sperma dan cairan vagina :

Melalui hubungan seks penetratif (penis masuk kedalam Vagina/Anus), tanpa menggunakan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya cairan sperma dengan cairan vagina (untuk hubungan seks lewat vagina) ; atau tercampurnya cairan sperma dengan darah, yang mungkin terjadi dalam hubungan seks lewat anus.

3. Lewat Air Susu Ibu :
Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif, dan melahirkan lewat vagina; kemudian menyusui bayinya dengan ASI.
Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (Mother-to-Child Transmission) ini berkisar hingga 30%, artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV positif kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif.
Cara Pencegahan :

1. Gunakan selalu jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan penyuntikan atau proses lain yang mengakibatkan terjadinya luka

2. Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya : hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin, karena hal ini memungkinkan penularan HIV)

3. Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif sebaiknya diberitahu tentang semua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya sendiri dan bayinya, sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan.
AIDS tidak ditularkan melalui :

1. Makan dan minum bersama, atau pemakaian alat makan minum bersama
2. Pemakaian fasilitas umum bersama, seperti telepon umum, WC umum, dan kolam renang
3. Ciuman, senggolan, pelukan dan kegiatan sehari-hari lainnya
4. Lewat keringat, atau gigitan nyamuk
APAKAH BEDA ANTARA HIV DENGAN AIDS ?
:

HIV adalah
Human Immuno Deficiency Virus, suatu virus yang menyerang sel darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan/ daya tahan tubuh, sehingga mudah terserang infeksi/penyakit.

AIDS adalah
Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu timbulnya sekumpulan gejala penyakit yang terjadi karena kekebalan tubuh menurun,oleh karena adanya virus HIV di dalam darah

APA TANDA-TANDA SESEORANG TERTULAR HIV ? :

Sebenarnya tidak ada tanda-tanda khusus yang bisa menandai apakah seseorang telah tertular HIV, karena keberadaan virus HIV sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang (5 sampai 10 tahun hingga mencapai masa yang disebut fullblown AIDS). Adanya HIV di dalam darah bisa terjadi tanpa seseorang menunjukan gejala penyakit tertentu dan ini disebut masa HIV positif. Bila seseorang terinfeksi HIV untuk pertama kali dan kemudian memeriksakan diri dengan menjalani tes darah, maka dalam tes pertama tersebut belum tentu dapat dideteksi adanya virus HIV di dalam darah. Hal ini disebabkan kaena tubuh kita membutuhkan waktu sekitar 3 - 6 bulan untuk membentuk antibodi yang nantinya akan dideteksi oleh tes darah tersebut. Masa ini disebut window period (periode jendela) . Dalam masa ini , bila orang tersebut ternyata sudah mempunyai virus HIV di dalam tubuhnya (walau pun belum bisa di deteksi melalui tes darah), ia sudah bisa menularkan HIV melalui perilaku yang disebutkan di atas tadi.
Secara umum, tanda-tanda utama yang terlihat pada seseorang yang sudah sampai pada tahapan AIDS adalah :
- berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat
- demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan)
- diare berkepanjangan (lebih dri satu bulan)
Sedangkan gejala-gejala tambahan berupa :
- batuk berkepanjanga (lebih dari satu bulan)
- kelainan kulit dan iritasi (gatal)
- infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan
- pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, seperti di bawah telinga, leher, ketiak dan lipatan paha.

Minggu, 02 November 2008

The 20th anniversary 0f word AIDS Day


1 December 2008 marks the 20th anniversary of World AIDS Day.

1 December 2008 marks the 20th anniversary of World AIDS Day. Since 1988, efforts made to respond to the epidemic have produced positive results, however, the latest UNAIDS report on the global AIDS epidemic indicates that the epidemic is not yet over in any part of the world.

Together with its partners, the World AIDS Campaign set this year’s theme for World AIDS Day as “Lead – Empower – Deliver”, building on last year’s theme of “Take the Lead”. Designating leadership as the World AIDS Day theme for 2007 – 2008 provides an opportunity to highlight both the political leadership needed to fulfill commitments that have been made in the response to AIDS – particularly the promise of universal access to HIV prevention, treatment, care and support by 2010 – and celebrating the leadership that has been witnessed at all levels of society.

As in previous years, the World AIDS Campaign has produced a wide variety of campaign materials to be used by individuals and organizations that want to campaign on World AIDS Day and host commemorative events. These materials are available on the World AIDS Campaign web site at www.worldaidscampaign.org. The web site also has a calendar of events where organizations are encouraged to list information on their planned activities for World AIDS Day.

The concept of a World AIDS Day originated at the 1988 World Summit of Ministers of Health on Programmes for AIDS Prevention. Since then, every year UN agencies, governments and all sectors of civil society worldwide join together to campaign around specific themes related to AIDS.

World AIDS Day 2008:LEAD-EMPOWER-DELIVER

03/06/2008 9:07 am

Leadership is the theme for World AIDS Day 2007 and 2008, promoted with the campaigning slogan, “Stop AIDS. Keep the Promise.”

Leadership encourages leaders at all levels to stop AIDS. Building on the 2006 theme of accountability, leadership highlights the discrepancy between the commitments that have been made to halt the spread of AIDS, and actions taken to follow them through. Leadership empowers everyone – individuals, organisations, governments – to lead in the response to AIDS.

In 2007, people around the world were encouraged to take the lead to stop AIDS. Campaigns took the shape of marches, leadership discussions, public awareness events and pledges from leaders. These events all helped to put leadership in the spotlight.

People have offered their leadership – now it is time to deliver. Promises must be kept, and people must feel empowered to act.

Why is 2008 important?

2008 marks the 20th anniversary of World AIDS Day. Since 1988, the face and response to AIDS has greatly changed. While many of these changes are positive, this anniversary offers us an opportunity to highlight how much more still needs to be done.

For example:

  • Leaders in most countries from around the world now acknowledge the threat of AIDS, and many have committed to do something about it. As of 2007, nearly all countries have national policies on HIV. However, despite these policies, most have not been fully implemented and many lack funding allocations.
  • While treatment for HIV and AIDS has improved and become more widespread since 1988, many still do not have access to it – in 2007 only 31% of those in low- to middle-income countries who need treatment received it.
  • Despite HIV awareness now reaching nearly all areas of the globe, infection rates are still happening 2.7 times faster than the increase in number of people receiving treatment.
  • While the number of countries protecting people living with HIV continue to increase, one third of countries still lack legal protections and stigma and discrimination continues to be a major threat to universal access.
  • More broadly, real action on HIV and AIDS and human rights remains lacking. Legal barriers to HIV services still exist for groups such as women, adolescents, sex workers, people who use drugs, and men having sex with men, and programmatic responses promoting HIV-related human rights have yet to be prioritised.

World AIDS Day began in 1988 when health ministers from around the world met and agreed on the concept of the day as an opportunity for all of us to come together to demonstrate the importance of AIDS and show solidarity for the cause. In 2008, this underlining principle of solidarity and awareness remains the same.

We have only two years to go for “the goal of universal access to comprehensive prevention programmes, treatment, care and support by 2010”[1].”

To achieve this goal, leadership and action is needed now. Governments must deliver on the promises they have made. Communities must encourage leadership of its members. Individuals must feel empowered to access treatment, to know their rights and take action against stigma and discrimination, and to know and use methods of prevention against receiving and transmitting HIV.

About the Campaign

About the Campaign

The world must take urgent account of the specific impact of AIDS on children, or there will be no chance of meeting Millennium Development Goal (MDG) 6 – to halt and begin to reverse the spread of the disease by 2015. Failure to meet the goal on HIV and AIDS will adversely affect the world’s chances of progress on the other MDGs. The disease continues to frustrate efforts to reduce extreme poverty and hunger, to provide universal primary education, and to reduce child mortality and improve maternal health.

World leaders, from both industrialized and developing countries, have repeatedly made commitments to step up their efforts to fight the spread of HIV and AIDS. They are beginning to increase the political leadership and the resources needed to fight the disease. Significant progress is being made in charting the past and future course of the pandemic, in providing free antiretroviral treatment to those who need it, and in expanding the coverage of prevention services.

But children are still missing out.

In 2007

  • 420,000 children were newly infected with HIV

  • 290,000 children died of AIDS

  • Children under 15 accounted for 2.1 million of the estimated 33.2 million people living with HIV

Millions of children, adolescents and young people in the path of the pandemic are at risk and in need of protection. AIDS is redefining the very meaning of childhood for millions, depriving children of many of their human rights – of the care, love and affection of their parents; of their teachers and other role models; of education and options for the future; of protection against exploitation and abuse.

The world must act now, urgently and decisively, to ensure that the next generation of children is AIDS-free.

The UNITE FOR CHILDREN UNITE AGAINST AIDS Campaign will

  • Provide a child-focused framework for nationally owned programmes around the ‘Four Ps’, urgent imperatives that can make a real difference in the lives and life chances of children affected by HIV/AIDS.

    • Prevent mother-to-child HIV transmission
      By 2010, offer appropriate services to 80 per cent of women in need
    • Provide paediatric treatment
      By 2010, provide either antiretroviral treatment or cotrimoxazole, or both, to 80 per cent of children in need
    • Prevent infection among adolescents and young people
      By 2010, reduce the percentage of young people living with HIV by 25 per cent globally
    • Protect and support children affected by HIV/AIDS
      By 2010, reach 80 per cent of children most in need
  • Provide a platform for child-focused advocacy on global AIDS issues such as

    • Mobilizing international resources to combat HIV/AIDS. This means not only a significant increase in official development assistance overall, but also a bigger proportion allocated to HIV and AIDS and, specifically, to protect, care for, support and provide treatment for children affected by the disease.
    • Supporting corporations as they develop socially responsible policies and programmes for workers, their children and communities.
    • Advocating for governments, donors and international and non-governmental organizations to stand by the commitment to come as close as possible to the goal of universal access to treatment by 2010; and supporting countries in accessing appropriate and affordable medicines, especially formulations and diagnostics adapted to the specific needs of children.
    • Campaigning for education and health services to be strengthened, and for governments and agencies to work towards the elimination of user fees for primary education and, where appropriate, health-care services.
    • Putting the protection, care, support and treatment of children, adolescents and young people at the centre of the HIV and AIDS agenda.
  • Put the missing face of children affected by AIDS at the centre of the AIDS agenda and make sure that the voices of children and young people are heard on the issues that affect them.

Following the appeals made at the 2005 G-8 Summit, the 2005 World Summit, and other declarations and commitments on HIV and AIDS, UNICEF, as part of its work as a cosponsoring agency of UNAIDS, calls upon every part of global society to join in a campaign to support national efforts to ensure that this is the last generation of children that must bear the burden of AIDS.

Kamis, 23 Oktober 2008

Peer Educator Pandaan

Penjangkauan yang dilakukan di area pandaan pada sebaya setingkat SMA sangat menarik, karena kebanyakan peserta yang mengikuti sosialisasi tersebut rata-rata memiliki antusias yang sangat besar, ini terlihat dari flasback dan respon yang di perlihat dalam forum dengan banyak pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak pernah kami duga dan tidak pernah terpikir sama sekali oleh kami selaku pemberi informasi.
Pada acara tersebut juga kami banyak menemukan cerita dari peserta tentang teman-temannya yang memiliki perilaku yang yang berisiko terkena dan tertular HIV and AIDS.
Salah satu peserta penjangkauan yang melakukan diskusi dengan temannya terkait masalah teman-teman mereka yang memilki kecenderungan untuk melakukan sesuatu yang berisiko tinggi tertular HIV and AIDS.
Banyak komentar yang mereka berikan setelah acara sosialisasi tersebut, rata-rata dari mereka meiliki kecenderungan dan respon baik terhadap program untuk memberikan penyadaran terhadap bahaya HIV dan menghibau agar tidak melakukan sikap yang meiliki risiko tinggo tertular virus tersebut.
Salah satu relawan kami memberikan pengetahuan tentang pengertian HIV dasar (pngertian HIV and AIDS, gejala, ciri2, cara penularan, cara pencegahan, sampai data2 dan sebagainya)
Dengan menggunakan media yang seadanya Ivan (relawan) mempesentasikan powerpointnya tentang HIV and AIDS yang ia dapat ketika pelatihan di lamcadika bangil dan hotel Lie Mas Tretes Prigen pada bulan Juli-Agustus 2008.

Rabu, 22 Oktober 2008

Peer Educator Purwosari

Puasa tidak menyurutkan semangat para relawan untuk melakukan proses pemberian informasi terhadap penjegahan dan penyebaran HIV and AIDS di wilayah Purwosari. Tyan salah satu relawan Pita Merah sangat antusiasnya dalam menyamapikan materi tentang penyebaran dan penularan HIV and AID serta ciri dan akibat dari virus tersebut.
Tidak kalah, begitupun peserta ssosialisasi tersebut sangat antusias dengan penuh semangat dan di barengi rasa takut dan prihatin terhadap penyebaran virus itu di pasuruan yang sangat cepat. berbagai tanya keluar dari para peserta yang selama ini masih belum tahu menahu tentang HIV serta ciri orang yang terinveksi virus tersebut. Selama ini mereka hanya dengar bahwa virus itu adalah virus yang mematikan tanpa ada kereangan informasi selanjutnya!
Setelah mengikuti sosialisasi tersebut peserta merasa lebih tahu dan bisa bersikap terhadap apa dan bagaimana cara pencegahan virus HIV tersebut, kemudian mereka juga tahu ciri dan dampak yang dihasilkan dari virus itu. Tidak hanya itu saja mereka juga di beri pengetahuan tentang bagaimana bersikap terhadap orang yang positif HIV, karena yang paling menyakitkan bagi HIV positif bukanlah virudnya melainkan perlakuan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar.